Dont Break My Heart

Sebelum mulai, mari set dulu lantunan untuk mendukung suasana ceritanya. Hehe, karena kali ini rasanya sedikit freak. Ya meskipun gak jarang tulisannya memang gitu, sih. Hahaha
Nih, pasang lagu The Scientist - Coldplay
*sfx : Coldplay - The Scientist

mulustrasi
mulustrasi
 
Pernah suatu waktu aku mengasihi seorang perempuan. Bermula ketika aku tidak sengaja menaruh hati kepadanya. Tapi, semua tak seindah awal dan akhirnya, memang.

Aku memulai hubungannya bukan karena dasar aku telah menaruh hati kepadanya, semua hanya berawal dari rasa inginku memiliki status. Namun, tak ada juga niatku untuk mempermainkan perasaannya, karena kala itu aku percaya bahwa rasa itu akan ada ketika kita telah menciptakannya sendiri, rasa, sayang yang kumaksud, BUKAN rasa tertarik yang timbul karena rupa ataupun penampilan.

Waktu itu, aku tau bahwa dia baru saja melepaskan kekasihnya, entah itu dia berpikir logis atau emosional, mereka bertingkah seorang mereka masih kanak-kanak, namun memang begitu.

"Hai. :)" sent to Ria.
"Hai juga. :)" from Ria
"Apa kabar?"
"Puji Tuhan sehat, kamu gimana?"
"Baik juga. Hehe."
"Kamu udah makan?"
"Udah, kok, kamu?"
"Udah juga sih, hehe.."
"Hmm, boleh nanya?"
"Ya, silahkan, mau nanya apa?"
"Tapi jangan marah, ya? Hehe"
"Iya nggakpapa, kok. Tanya aja."
"Kamu beneran udah udahan ya sama dia?" tanyaku hati-hati memilih kata.
"Ooh, gitu deh."
"ooh, maaf ya nanya gituan. hehe"
"Iya, nggakpapa, kok."
"Kok bisa ya? Kan baru itu." selidikku ingin tau tentang dia.
"Ya gitu deh, mungkin dia udah dapat yang lebih baik." kemudian dia cerita lagi sebab mereka udahan.
"ooh, tapi kan kamu udah baik..." blablabla....

Kemudian begitu, semenjak aku tau bahwa dia udah selesai dengan anunya, aku lebih sering menghubunginya sekedar nanya kabar dan basa-basi.

Sampai suatu waktu, aku menyatakan cinta kepadanya. Meskipun saat itu tidak ada cinta yang kurasakan, entah kenapa, saat itu juga, dia mengiyakan keinginanku menjadi kekasihnya.

*flashback*
Hal itu dia iyakan bukan karna kami kenal saat itu juga. Aku udah mulai menghubunginya bahkan sebelum mereka juga memulai cerita mereka yang mungkin terhenti saat itu. Begitu, aku bahkan sudah mulai mendekatinya meskipun sekedar basa-basi.
Namun, aku berhenti mendekatinya setelah aku mendengar kabar kalau dia sudah punya penjaga.

Awal dia mengiyakan menjadi kekasihku, aku lebih sering menghabiskan waktu dengan ponselku. Karena perantara ponsel kami dapat berkomunikasi.
Lama-kelamaan, aku makin sering menghabiskan waktu dengan dia, terasa indah saat itu.

Sampai suatu waktu, rasa bosan tiba, banyak permasalahan muncul, perbedaan pendapat ini dan itu, semua berubah, tak semanis awalnya. Aku mulai jenuh, aku memenangkan keegoisanku.
Kini yang berbicara dipikiranku hanya logika semata untuk memenangkan kejenuhanku. Logikaku menyalahkan dia sebagai penyebab kejenuhan itu.

Akhirnya, aku mengakhiri hubungan itu tanpa suatu alasan yang jelas (menurut dia), namun sangat logis alasanku (logikaku menentang). Semua berakhir, bahkan rasaku bisa hilang entah kemana, tak lagi ada rasa yang menggebu-gebu saat ingin bertemu dengannya seperti sedia kala.

Ah, semua berakhir. Kini ku sesali. Bukan, bukan perpisahan yang kusesali, yang kusesali hanya logikaku, harusnya, aku mengakhiri rasa dengan rasa (emosional) bukan dengan rumus (logika).

Karna yang diawali dengan rasa, diakhiri dengan rasa, akhirnya juga rasa.
Karna yang diawali dengan rasa, diakhiri dengan rumus, akhirnya hanya ketidak-aturan.

Andai saja, bisa kuulang waktu untuk memperbaiki perpisahan itu.
Tapi, waktu tetaplah waktu yang udah ditetapkan dengan rumus namun dipenuhi dengan rasa.
Tidak ada yang bisa diubah dari waktu itu, kecuali rasa yang memenuhinya.

Kenangan adalah rasa, sifatnya semi-reversible, dapat kamu kenang kapan saja. Namun karena waktu yang bersifat irreversible, kenangan itu tidak dapat kamu kembalikan seperti sedia kala.

Jangan Terlalu Diseriusin

Biar nggak terlalu serius, nggak tegang anunya, sarafnya, kita stel dulu lagu pengantarnya,
sfx : Bossanova Jawa - Bocah Ndeso


Selamat malam we para koncoku, rindu sudah lama 'ku tak menulis untukmu yang tercinta. haha
Aku lagi sibuk we, sibuk kuliah. Menikmati aroma yang sering kali mampir ditiap hirupan udara itu, entah aroma apa itu, aroma yang tak pantas dicium para kandidat pengembang pangan Nusantara ini, aroma yang juga sungguh membantu perut ini untuk tetap berpuasa.
EH, nggak sih sebenarnya, aku hanya pura-pura sibuk dengan rutinitas ke kampus hijau muda katanya itu. entah lah, skip.

Nah jadi gini ceritanya,
Aku asik memainkan game yang baru kuunduh di batang-ajaibku ketika dosen sedang sibuk mendengarkan segelintir manusia yang sedang menunjukkan hasil kerja 1orang kelompok sisanya mereka.
Nah, waktu itu, kurasakan pedih di mataku, entahlah, mungkin terlalu lama aku menatap layar batang-ajaibku itu. Sejenak, aku mengalihkan pandanganku dari batang-ajaibku itu, lalu mengangkat kepala memperhatikan orang yang sedang berbicara menggantikan dosen itu,

"ah, tidak menarik", pikirku.

Lalu kualihkan perhatianku menuju wajah-wajah tak berdosa di ruang kelas itu, dan. . . . . . .
tidak ada yang menarik.
Hmm..

Eh kayaknya ada, iya ada, aku memperhatikan seorang gadis yang hampir tidak pernah kusadari keadaannya di ruang itu, sejanak pandanganku berhenti di wajahnya,

"manis", gumamku.

Sehabis kuliah aku mencoba mendekatinya,

"hai, aku gan.." sapaku memperkenalkan diri.
"hai, aku wit." jawabnya tersipu malu, pipinya memerah.
"kamu mau pulang?" tanyaku polos tak bersalah.
"iya, hehe" jawabnya masih malu-maluin, eh malu.
"oh ya, aku anterin mau?" tawarku senyum sumringah penuh arti.
"eh nggak usah, aku barang temanku" jawabnya dengan ekspresi terkejut.
Duh, melihat ekspresi terkejutnya ngegemesin.
"manis" pikirku aku tersenyum.

"woi, mpret, ngapain senyum-senyum?" suara mengejutkanku

ah, sial, hanya anganku.
Ternyata aku nggak segentle itu, aku nggak punya nyali, mak.
Mak, anakmu dipecundangi gak brani kenalan sama cewek.


*pulang*

Aku beranikan ngomong dengan gadis tadi, eh nggak deh, aku nggak ngomong, aku cuma ngechat dia duluan.

Mak, aku dipecundangi lagi karna cuma ngemodusin lewat chat.

"hai, wit :)" to Wit
5 menit belum dibalas, 10 menit, 30 menit, sejam, 2 jam belum dibalas juga.
esok harinya, ting nung, bunyi batang-ajaibku itu.

"hai juga, gan" jawabnya.

"yaaaay!!!! dia tau namaku" seruku dalam hati tante girang.
"iyalah tau, itu kalau chat ada namamu diatas, bego!" tiba-tiba suara aneh dipikiranku menyadarkanku. galau lagi.
karena bingung, aku nggak balas lagi pesannya.

Kemudian begitu sampai 2 bulan berlalu, hanya chat begitu, tak maju-maju.

Sampai suatu saat tak mampu aku menahan birahi rasa di dadaah, aku menyampaikan yg kutau kepadanya.
Hmm, no respon, koncoku..

sampai suatu waktu timbul makna dari kata friend-taklebih-zone sesungguhnya. Dan karna aku pria gentle yang tidak memaksakan kehendak sendiri, aku merelakannya.
Hmm

PRIA GENTLE TIDAK MEMAKSAKAN KEHENDAK SENDIRI.

Dan sesuai keinginannya, teman baru pun muncul.


Lalu, karna tidak memaksakan kehendak sendiri, akupun berhenti.
Sekian.. koncoku :*


Pengikut

Site Info

Copyright © Samuel XtO | Powered by Blogger

ReDesign by sams