Jiwa Yang Tersenyum

Suatu ketika, seperti biasa aku memilih untuk keluar sejenak dari kos barang sebentar atau lama untuk menghirup udara malam atau mungkin sekedar bertukar tawa dengan manusia lain dengan jiwa yang berbeda pula. Seperti biasa pula, aku memilih untuk bersila di sebuah warung yang belakangan ini sedang ramai dikunjungi kawan-kawan lain barang kali untuk menikmati seduhan kopi panas atau bahkan teh-susu dinginnya; kami sebut itu warung, walau si Ibu penjual lalapan bersikukuh menyebutnya angkringan, ah siapa mau memusingkannya, toh jiwa-jiwa itu berkumpul di sini untuk menikmati apa yang dia mau, dan lagipula kami sudah terlanjur akrab menyebutnya warung.


Di tempat ini, aku mengenal lebih banyak kawan dengan keunikan yang melekat dalam jiwa dan pemikirannya sendiri. Mulai dari perfeksionis sampai dengan yang apatis; ah tidak, mungkin apatis ini lebih cocok dicapkan untukku? ~mungkin begitu kata mereka. Perlu kamu ketahui juga, tak bermaksud apatis, hanya lelah disebut terlalu mencampuri urusan orang lain. Entah bagaimana pun, obrolan mengenai apapun akan melebur bersama mereka bahkan hanya untuk membahas beberapa peran dalam video game. Saling melemparkan candaan adalah hal yang paling wajib rasanya di tempat ini, bahkan kau bisa datang hanya untuk menenangkan hati dan juga perutmu yang sedang gundah.

Saat itu juga, aku mendapati seorang kawan yang sepertinya sedang menutupi kesedihannya, dia menyapaku saat aku dengan sengaja menghampirinya dan melemparkan senyumnya dan mencoba menjabat tanganku, pun kubalas jabat tangannya. Aku tak begitu pandai menghibur jiwa, tapi aku tahu dia sedang menutupi sesuatu dari rautnya. Tak berniat melihatnya larut, aku mengajaknya ngobrol dari hal nggak penting sampai hal yang lebih nggak penting lainnya. Tak lama, raut sedih di wajahnya seakan hilang tergantikan oleh sejuknya udara malam; Dari hal ini, aku berpikir bahwa seseorang tak perlu dihibur untuk menghilangkan kesedihannya, kita hanya perlu mengajaknya berbicara dan bersedia sebagai pendengar untuknya, dan melakukan ini menurutku adalah salah satu langkah berbagi kebaikan karna telah menggoreskan senyum di wajah kawanmu.

Harga senyuman, dengan komunikasi yang baik dan tulus, kok.

Maka, beranjaklah keluar dan berkomunikasilah dengan baik agar kau dapat mengukir dan melihat jiwa-jiwa tersenyum lainnya.

0 komentar:

Post a Comment

Tinggalkan jejak penjelajah...

Pengikut

Site Info

Copyright © Samuel XtO | Powered by Blogger

ReDesign by sams