Jangan Terlalu Diseriusin

Biar nggak terlalu serius, nggak tegang anunya, sarafnya, kita stel dulu lagu pengantarnya,
sfx : Bossanova Jawa - Bocah Ndeso


Selamat malam we para koncoku, rindu sudah lama 'ku tak menulis untukmu yang tercinta. haha
Aku lagi sibuk we, sibuk kuliah. Menikmati aroma yang sering kali mampir ditiap hirupan udara itu, entah aroma apa itu, aroma yang tak pantas dicium para kandidat pengembang pangan Nusantara ini, aroma yang juga sungguh membantu perut ini untuk tetap berpuasa.
EH, nggak sih sebenarnya, aku hanya pura-pura sibuk dengan rutinitas ke kampus hijau muda katanya itu. entah lah, skip.

Nah jadi gini ceritanya,
Aku asik memainkan game yang baru kuunduh di batang-ajaibku ketika dosen sedang sibuk mendengarkan segelintir manusia yang sedang menunjukkan hasil kerja 1orang kelompok sisanya mereka.
Nah, waktu itu, kurasakan pedih di mataku, entahlah, mungkin terlalu lama aku menatap layar batang-ajaibku itu. Sejenak, aku mengalihkan pandanganku dari batang-ajaibku itu, lalu mengangkat kepala memperhatikan orang yang sedang berbicara menggantikan dosen itu,

"ah, tidak menarik", pikirku.

Lalu kualihkan perhatianku menuju wajah-wajah tak berdosa di ruang kelas itu, dan. . . . . . .
tidak ada yang menarik.
Hmm..

Eh kayaknya ada, iya ada, aku memperhatikan seorang gadis yang hampir tidak pernah kusadari keadaannya di ruang itu, sejanak pandanganku berhenti di wajahnya,

"manis", gumamku.

Sehabis kuliah aku mencoba mendekatinya,

"hai, aku gan.." sapaku memperkenalkan diri.
"hai, aku wit." jawabnya tersipu malu, pipinya memerah.
"kamu mau pulang?" tanyaku polos tak bersalah.
"iya, hehe" jawabnya masih malu-maluin, eh malu.
"oh ya, aku anterin mau?" tawarku senyum sumringah penuh arti.
"eh nggak usah, aku barang temanku" jawabnya dengan ekspresi terkejut.
Duh, melihat ekspresi terkejutnya ngegemesin.
"manis" pikirku aku tersenyum.

"woi, mpret, ngapain senyum-senyum?" suara mengejutkanku

ah, sial, hanya anganku.
Ternyata aku nggak segentle itu, aku nggak punya nyali, mak.
Mak, anakmu dipecundangi gak brani kenalan sama cewek.


*pulang*

Aku beranikan ngomong dengan gadis tadi, eh nggak deh, aku nggak ngomong, aku cuma ngechat dia duluan.

Mak, aku dipecundangi lagi karna cuma ngemodusin lewat chat.

"hai, wit :)" to Wit
5 menit belum dibalas, 10 menit, 30 menit, sejam, 2 jam belum dibalas juga.
esok harinya, ting nung, bunyi batang-ajaibku itu.

"hai juga, gan" jawabnya.

"yaaaay!!!! dia tau namaku" seruku dalam hati tante girang.
"iyalah tau, itu kalau chat ada namamu diatas, bego!" tiba-tiba suara aneh dipikiranku menyadarkanku. galau lagi.
karena bingung, aku nggak balas lagi pesannya.

Kemudian begitu sampai 2 bulan berlalu, hanya chat begitu, tak maju-maju.

Sampai suatu saat tak mampu aku menahan birahi rasa di dadaah, aku menyampaikan yg kutau kepadanya.
Hmm, no respon, koncoku..

sampai suatu waktu timbul makna dari kata friend-taklebih-zone sesungguhnya. Dan karna aku pria gentle yang tidak memaksakan kehendak sendiri, aku merelakannya.
Hmm

PRIA GENTLE TIDAK MEMAKSAKAN KEHENDAK SENDIRI.

Dan sesuai keinginannya, teman baru pun muncul.


Lalu, karna tidak memaksakan kehendak sendiri, akupun berhenti.
Sekian.. koncoku :*


6 comments:

  1. friend-tak lebih-zone ahaha
    kocak tulisannya gan :D

    ReplyDelete
  2. yahh, kaka kuliahan harus berani dong!
    btw kangen blogwalkingan begini. sudah lama tak buka blog akuu ahahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. wih berani terus kok, berani mundur. :v
      sama nih, aku juga kangen kamu *eh.

      Delete

Tinggalkan jejak penjelajah...

Pengikut

Site Info

Copyright © Samuel XtO | Powered by Blogger

ReDesign by sams