Postingan

Kuta dan Malam

Lamat-lamat kutimbun kenangan yang pernah kita tumbuh-rawatkan, mengubur semua dalam rongsokan kata, dan tak lupa melengkapinya dengan nisan bertuliskan: "aku, antara,   kau. bukan kita". Bukan perkara sederhana untukku. Kau tahu? Semakin aku menimbunnya, semakin pula ia menjulang tinggi, seakan aku menimbunnya dengan pupuk. Di antara semua buah yang muncul dari pohon kenangan itu, ada satu yang muncul dengan cahaya mengkilap dan aroma manis lembut, yang menggodaku untuk mencicipinya kembali. Ingatkah kau? Kali pertama aku mengajakmu ke pantai Kuta saat itu, "Untuk apa?" tanyamu. "Lihat saja nanti" kataku. Tentu saja kau akan bertanya begitu, asing bagimu bila harus ke pantai pukul 9 malam. Gelap dan sepi kah yang kau bayangkan waktu itu? Sepanjang jalan tanya dari mulut manismu tak ada habisnya, perihal apa dan mengapa harus ke pantai jam segini, aku, ya, diam saja. Nanti kamu juga tahu. Setibanya di pantai pun, tak hentinya kau bertanya

Kereta Bandung

Bandung? Hal pertama yang kupikirkan ketika mendengar nama kota ini adalah segar. Udaranya yang sejuk, orang-orangnya yang ramah, makanannya yang nikmat, dan tentu saja senyummu yang manis. Masih tergambar jelas wajah panikmu kala itu, ketika secara tidak sengaja kau menabrakku, sehingga jus alpukat yang tadinya ada di genggamanku sudah menyebar di tangan dan bajumu. Tentu saja, aku juga terkejut, sempat aku akan memaki mengingat jus itu adalah satu-satunya pelepas dahaga yang kupunya, yang kudapat setelah kebingungan karna tetehnya bilang "mangga" tapi dia kasih aku jus alpukat. Namun, kuurung niatku untuk memakimu, melihat wajahmu yang panik campur takut. Berulang kali kata maaf kau lontarkan, matamu mulai berkaca-kaca, gegas kuambilkan sapu tanganku, lalu mengisyaratkan agar kau bersihkan jus alpukat di tangan dan bajumu. Entah kenapa, kau berlari begitu saja mengambil sapu tanganku. Kau meninggalkanku dengan rasa dahaga dan bingung karena kelakuanmu yang berlar

Mata

29 Januari 2019 *// -------------------------------- //* Mata ketemu mata Bibirku tak sanggup berkata-kata Sungging senyummu merekah Sentuh bilik hati yang temaram.    Matamu pancarkan indah sinarnya Otakku tak sempat menyusun sepatah kata Tawa lembutmu mengembang begitu saja Untuk kesekian kali, olehmu aku terpana. *// -------------------------------- //*

Damai-mu

Gambar
Aku penuh tanya, Tentang apa dan siapa Bagaimana aku di waktu nanti. Aku berkelut dengan diri, Berdebat salah dan benar Putusan yang telah lalu. Damai tak ingin muncul, Seakan kau mencurinya Tanamkan jauh dalam dirimu. Kucoba ambil damai, Kau tersakiti Damai melekat padamu. Pikiran menjelma rana, Aku ingin miliki damai Namun tak ingin menyakiti. Aku mulai sadari, Damai mengikut padamu Kapan dan dimana kau berada. Kau harus kukejar, Kujadikan kau milikku Damaiku ada padamu.

Baper

Gambar
Agaknya pikiranku sedikit gusar Kata-kata mereka menari di pikiranku, pusing. Kata mereka, "jangan baperlah, gitu doang" Sesaat setelah aku merespon pernyataan yang menurutku keliru. Entah miris atau lucu, Pikiran dan perasaan terlalu kompleks untuk itu Menggeneralisasikannya dengan 'baper' menurutku keliru. Respon seseorang mungkin karena ada yang salah, Atau mungkin karena tidak sesuai dengan idealisme orang itu. Lagi pula, tidak salah bila manusia menggunakan perasaan Bila saja respon ketersinggungan semudah itu dikategorikan 'baper' Aku rasa sudah lama posisimu tergantikan android

Jiwa Yang Tersenyum

Gambar
Suatu ketika, seperti biasa aku memilih untuk keluar sejenak dari kos barang sebentar atau lama untuk menghirup udara malam atau mungkin sekedar bertukar tawa dengan manusia lain dengan jiwa yang berbeda pula. Seperti biasa pula, aku memilih untuk bersila di sebuah warung yang belakangan ini sedang ramai dikunjungi kawan-kawan lain barang kali untuk menikmati seduhan kopi panas atau bahkan teh-susu dinginnya; kami sebut itu warung, walau si Ibu penjual lalapan bersikukuh menyebutnya angkringan, ah siapa mau memusingkannya, toh jiwa-jiwa itu berkumpul di sini untuk menikmati apa yang dia mau, dan lagipula kami sudah terlanjur akrab menyebutnya warung. Di tempat ini, aku mengenal lebih banyak kawan dengan keunikan yang melekat dalam jiwa dan pemikirannya sendiri. Mulai dari perfeksionis sampai dengan yang apatis; ah tidak, mungkin apatis ini lebih cocok dicapkan untukku? ~mungkin begitu kata mereka. Perlu kamu ketahui juga, tak bermaksud apatis, hanya lelah disebut terlalu menc

Trip ke Nusa Penida Part 2

Gambar
Jadi, libur semester ganjil TA 2017/2018 kemarin gw habiskan dengan berlibur di pulau Bali, masih Indonesia kok. Lalu, untuk mengisi waktu kosong gw dan teman-teman memutuskan untuk pergi ke Nusa Penida, ya seperti yang udah gw ceritain juga sih di part sebelumnya, nih! hehe Nusa Penida Part 1 Lanjut nih, yak~! Selasa, 16 Januari 2018. Pantai Suwehan / Suwehan Beach Yak, pantai ini adalah tempat tujuan kami selanjutnya sekaligus yang terakhir untuk hari ini. Perjalanan dari pantai Atuh ke pantai Suwehan ini memerlukan waktu sekitar 30-60 menit. Ya lumayan jauh deh ya, haha. Kebayang nggak? Setelah naik-turun dari Pohon Molenteng lanjut lagi turun ke pantai Atuh, eh lanjut lagi ke Pantai Suwehan yang ternyata turunnya harus lebih memakan tenaga lagi daripada turun ke pantai Atuh. Sedih tapi penasaran, sedih karena ini kaki rasanya udah ga bisa gerak lagi, hahaha, dan juga penasaran kenapa sih orang-orang pada rela turun ke bawah itu dengan jarak yang nggak bisa dibilan