Ketika Seseorang Mendapat Balasan

Halo gaes, jombs...
Kali ini ngomongin tentang balasan (reply/feedback, atau sejenisnya), tentunya mayoritas kita suka jika apa yang kita lakukan berbuah di kemudian hari. Nah ngomong-ngomong tentang buah dada dari tindakan kita tersebut, itu bergantung pada apa yang kita lakukan (aksi / action).



Gw pengen ngomongin ini karena baru aja teman gw curhat tentang si Joni, teman si Rino temannya teman gw, si Lulu ini. Jadi si Lulu cerita begini,

" Bang, sebenarnya cerita ini nggak ada hubungannya sama Joni dan Rino. Tapi, Bang, aku lagi nggaktau mau cerita sama siapa.
Jadi dulu itu, temanku Nayla, pernah pacaran sama Ucok...
" ucapnya sambil tunduk. Menatap hampa ke bawah.

" Hmm, trus? " tanya gw.

" Ih.. bawel, diem dulu, aku belum selesai ngomong" dia cubit lengan gw, "Jadi kan waktu itu kan Nayla ngenalin pacarnya Ucok samaku, Bang. Nah awalnya sih, aku biasa aja. Tapi, lama-kelamaan si Ucok ini sepertinya perhatian sama aku, aku jadi agak gimana gitu, sepertinya aku suka sama dia." ucapnya ragu.

"Loh!? Tapi kan .... awww.. sakit" Belum selesai ngomong, gw langsung dicubit lagi.

"iih! Udah dibilangin diem dulu. Aku gakmau cerita lagi ah sama, Abang!" dia manyun.

"yaya deh, maaf, ni aku diem, lanjut deh ngomong." gw senyum meyakinkan dia.

"Nah, iya aku lanjut cerita. mmm..." dia ragu, kali ini gw cuma diam mencoba menyimak yang dia akan ceritakan. "Awalnya sih aku sedikit menjauh, kan dia pacarnya teman aku. Tapi kan, Bang, namanya cewek, lama-lama hatinya akan luluh kalau diberi perhatian terus sama cowok." dia tersenyum malu.
"Jadi, aku mulai suka gitu sama dia, Bang, walaupun dalam hati aku masih sedikit ragu karna ngingat statusnya dia tadi, pacarnya Nayla. Sampai suatu waktu itu, Bang, 2 bulan yang lalu..." dia kelihatan bingung lagi.

"Jangan bilang kamu hamil! Apa!? Kamu hamil?" Tanya gw pura-pura syok. (iih! gw syok cyin!)

"Iya aku hamil, makan nih hamil! nih! nih!" gila, serangan cubitan diluncurkan ke seluruh permukaan kulit eksotis gw.
"Nggaklah, Bang! Kemarin itu, 2 bulan yang lalu, dia nembak aku, Bang. Di satu sisi, aku senang, tapi di satu sisi lagi aku takut karna udah merebut dia dari temanku sendiri." ucapnya sedikit manyun.

"Trus? Kamu jawab apa waktu dia nembak kamu?" tanya gw.

"Aku bilang ke dia, aku mau jadi pacarnya kalau dia udah putus sama Nayla. Nah, waktu itu, dia bilang kalau mereka udah putus sekitar 3 minggu lalu..... " sejenak dia terhenti dan menarik nafas dalam- dan keluar dari pantat kembali melanjutkan ceritanya, "Nggaktau kenapa, aku langsung aja percaya sama dia. Hehe, namanya juga cinta ya, Bang?" Tawanya namun sedikit berkaca-kaca kini matanya.

"hmm, trus?" tanya gw berusaha tidak mengganggu mood nya untuk bercerita.

"Ih! kok gitu doang sih? Bukannya malah nenangin aku, malah cuek gitu!" ucapnya lagi manyun.
Gw sempat kesal jombs! Banyak nanya, salah. Nanya secukupnya, salah.
(Who run the world? Girls!) <--- suara setan

"Iya, iya. Kamu jangan sedih, lanjut dulu ceritanya." ucap gw dan menyeka air matanya yg sedikit menetes. Dia tersenyum.

"Jadi waktu itu, aku terima dia jadi pacarku, Bang. Kami sangat bahagia. Dia sering ngasih aku upil hadiah. Hehe... dia juga sering ngajak aku makan bareng." dia kembali tersenyum cerita.

//Kali ini gw benar-benar bingung, cewek emang gitu kali ya? bisa senyum dan manyun dalam jeda waktu yang sangat singkat.//

"Tapi..." dia terlihat manyun lagi, "setelah 5 minggu pacaran, perlahan perhatian dia itu berkurang, Bang. Dia mulai jarang ngajakin aku makan, jarang ngasih aku kabar... " dia terhenti, tertunduk manyun.
Gw perhatikan dia sedikit menyeka air matanya, gw bingung terdiam.

"Awalnya sih aku biasa aja, Bang. Aku berusaha berpikir kalau dia hanya sedang sibuk atau mungkin kelelahan. Hehe.. Tapi nggak.." dia tersenyum namun matanya masih berkaca-kaca.
"Jadi terakhir dia ngajak aku makan malam bareng. Jadi waktu nunggu pesanan datang, dia ke toilet, dia ninggalin hpnya. Aku sih nggak curigaan sama dia, nggak nyentuh hpnya sama sekali. Tapi...." dia mencoba tersenyum namun sudah sedikit sesunggukan menahan air matanya.

Gw nggak bicara, hanya mencoba menenangkannya dan mengusap-usap rambutnya.

"Tapi, Bang, sekembali dari toilet, sewaktu makan itu, kami tuh sambil ngomong. Dan tiba-tiba, dia jujur samaku kalau dia dan Nayla belum putus, dah gitu, dia juga punya cewek lain, namanya Ri*na... huft..." dia sedikit mengambil nafas lagi, "Aku sih waktu itu pura-pura tegar, Bang, tersenyum. Namun hati aku ga bisa bohong, tetap aja air mataku netes gitu aja." Kali ini air matanya beneran nyucur, gw seka air matanya.

"Trus, habis ngomong gitu, dia minta maaf dan ninggalin aku sendirian... hiks" dia bercerita sambil sesunggukan dan air mata yang tetap menetes.

"Hmm.. trus sekarang gimana?" tanya gw sedikit kaku karna takut salah nanya.

"Ya gitu, kami nggak ada hubungan apa-apa lagi, Bang, kalau sama Nayla nya, aku nggak cerita dan nggak nanya apa-apa tentang pacarnya itu." dia sedikit memaksakan untuk tersenyum.

"Yah, kalau menurut aku sih, Nyuk (panggilan gw ke dia), kamunya yang salah. Dulu kamu udah tau kalau dia itu pacarnya Nayla dan kamu gampang aja percaya sama dia. Kamu terlalu gampang percaya sama orang yang baru kamu kenal. Trus, kamu juga harusnya bukan ngasih syarat gitu sama dia, harusnya tu kamu minta dia agar buktiin kalau dia benar-benar tulus dan sayang sama kamu. Bukannya nyuruh dia mutusin Nayla, itu artinya sama aja kamu niat pengen ngerebut dia dari Nayla." ucap gw perlahan takut salah ngomong lagi. Bahaya dicubit men.

"Hmm, tapi kan, Bang..." dia ragu "aku sayang sama dia, soalnya dia perhatian banget sama aku."

"Ya tetap aja, nggak boleh gitu, kan sebelumnya tu statusnya dia pacarnya temanmu, teman kamu loh itu." ucap gw senyum dan menatapnya.
"Ingat, Nyuk, karma itu selalu ada. Kan kamu mau aja nerima dia sebagai pacarnya dia, sedangkan dia pacarnya temanmu, nah bisa saja dia pacaran juga sama cewek lain dengan alasan yang sama ketika dia nembak kamu." ucap gw. Kali ini dia tersenyum.

"Hmm, iya deh, Bang. Hehe, makasih yah, Bang!" kini dia tersenyum.
"Kamu memang selalu yang terbaik, Bang! Hehe, walaupun aku ceritanya cuma ngarang tadi. Hehe"

//oke.
pointless...
Cewek bisa sepandai itu main drama.

Ya intinya yang pengen gw sampaikan itu, ketika kita nanam bibit pohon, lama-lama pohonnya gede, berbuah durian, duriannya jatuh, kena kaki, sakit, berdarah, masuk rumah sakit, bayar uang obat, minum obat, sembuh. Kemudian nanam bibit lagi...
EH TIDAK.

Karma itu ibarat bola salju, kita lemparnya kecil, tapi makin lama makin gede.
emang udah pernah liat salju? <-- suara syetan imut.
ya belum lah kampret! <-- ini suara gw

Gitu, deh, seperti hukum di pelajaran fisika juga
AKSI = REAKSI

3 comments:

  1. Replies
    1. haha.. exactly, i think so. But its not my point, i mean, nature give a bigger feedback.

      Delete
  2. Widiihhh,kacian amat abang yose :v ,,, udh serius malah dianya ngarang :v :v .. good job

    ReplyDelete

Tinggalkan jejak penjelajah...

BlogRoll

Pengikut

Site Info

Back to top

Site Info

Copyright © Samuel XtO | Powered by Blogger

ReDesign by sams